Tetap

TETAP

Dari cermin ke cermin tiada beda.
Manusia bisa berubah.
Namun Ia tetap begitu.

Manusia akali takdir.
Lilin-lilin dan berhala.
Namun Ia telah begitu.

Berdekade lalu orang memanggul cangkul kala pagi.
Membakar sampah dapur, sirami tanah kering di halaman rumah kala sore.
Kala gelap, bersahaja di bawah petromax hingga lelap.

Hari ini, mesin-mesin berdengung dicambuk engkohnya.
Mesin besi dan mesin bertulang.

Bibir-bibir bergerak menikam lawan dan kawan.
Memuja oligarki, menggonggong pada kebenaran.

Ditabuh dalang, jemari menari lacurkan kata.
Sirkus para pemimpin dan para periasnya.

Seni bertahan hidup berubah.
Sudah benar Lauhul mahfuzh begitu.

Mengapa risau?

Seberapapun laju peradaban.
Seriuh apa parade kesombongan.
Tak pernah lampaui apa yang tertulis di sana.
Romantisme sederhana Tuhan pada sahaya.

By : Mpb
19/04/2020

2019

murka kelana malam mesin puisi

2019

Kenanglah petrikor awal warsa.
Valium-valium yang dikemas udara.
Sesaki dada, hadirkan nidera.
Rebah seraya menakar bahaya.

Sibuk menanak mesin berpikirku agar tumbuh.
Tabung ambisi tampak cukup penuh.
Bekal arungi ruang penuh benda tajam nan jauh.
Bisakah kutempuh dengan tangguh?

Di jalan kujumpai puan.
Tega puan remukkan hati tuan.
Tegar tuan menjaga lilin harapan.
Tetap saja ku pergi membawa ratapan.

Biarlah disebut apa aku.
Bahadur tanpa pulang.
Sematkan garis matahari yang memudar di ujung senapan.
Kukancingkan jubah, lari dari airmata.
Kukejar pelangi hingga ke semesta kosong.

Ibarat kereta bumi ini bergerak pelan hampiri ujung rel yang fana.

Nisa, mengapa kau katakan cakrawala itu panjang?
Sedangkan debarku padamu pun tak dapat kau menghingganya.
Tak ada yang memiliki malam sepekat ini selain dirimu.
Merindu ibu bagai hujam seribu sembilu.
Semurung raksasa yang enggan melahap malam.
Senyum redam di antara duka yang dalam.

Sementara kakiku sendiri sepejal pualam.
Terlampau letih mendaki hari-hari yang kelam.

Memang Ini tahun yang dingin dan barbar.
Kutoleh kembali ke belakang,
Kuhitung apa-apa saja yang telah kudapat.
Hanyalah ratapan panjang tragedi,
Jargon kosong tentang berdiri tegar,
Dan semaraknya parade kekalahan.

2019 hanyalah angka.
Tak semestinya angka pecundangi seorang lelaki.

Dan inilah hitungan mundurnya.
Jarum detik melenggang julurkan lidahnya.
Aku tiarap merasa dihabisi.
Kekalahan yang tak pernah bisa kuakui.
Apa sudah semestinya aku ini berpuisi?
Ataukah berpura pura mati saja?

By : Mpb
31/12/2019

Aku Dogma

 

maha diksi_1-01

AKU DOGMA

Bernyanyi minor di hari petaka.
Rayakan ambisi nihil laksana.
Berlukiskan tawa gusar.
Sekali lagi kujalani seribu debar.

Di persimpangan ketakpercayaan.
Kupilih landasan landai itu.
Kususun kembali beberapa dosa.
Kutinggalkan langkah tak berjejak untuk mereka ikuti.

Tiris serat nadi sang pengejar mimpi.
Aku negasi yang terserak diantara pemikiran besar dan risalah kemenangan.

Sisi banalku terbangun memanjati tulang belakang.
Sisi petarungku terjebak dalam andai-andai.

Bagaimana bila candu mengikis jati diri?
Bagaimana bila tak kutemukan cara berarti?
Bagaimana bila kebenaran datang dan aku kecewa?

Bagiku tak mengapa.
Esok kan mendo’a lagi.
Selalu sudi kulawan semua.
Kan kuterjang bersama tuhanku.

By : Mpb
28/04/2019

Kekasih Badai

kekasih badai

KEKASIH BADAI

Bertahta di sini menghabiskan ruang.
Tergulung obsesi melawan dunia tanpa senjata.
Biar di luar sedang riuh.
Teori kubra, otomatisasi dan perang uang.

Lebih dari seribu penutur berkata.
Jangan berpuisi melawan malam.
Taringnya menerjang ke tulang.
Tajinya menyasar pelipis matamu.

Ahh biasa saja.
Sang malam hanya tak sengaja puitis.
Bila ia sadar tak selalu ada puisi di sini.
Ia sadur irama gemintang dan menjerit kembali.

Apa kabar senyuman yang hilang arah?
Jangan berkabung seabad gerhana untuk persepsi bahagiamu yang sirna dilamun awan.

Sambutlah hantu baru dalam diriku.
Kutemukan kesombonganku sebesar jupiter.
Lawan yang tak dapat kumenangkan seorang diri.

Dari menatap lampu kamar tak kudapatkan jawaban bijaksana.

Dari balik meja riasmu tak dapat kau tenangkan gundah dunia.

Kemarilah, nyanyikan misterimu di bawah halilintar bersama.
Kita saksikan pertunjukan lautan badai.

Gelombang yang kau pesan telah tiba.
Pecah menghantam dinding-dinding dermaga.
Genapi retaknya suasana hati sang penyair.

Begitu gelapnya dan anggun.
Tak sedikitpun bisa kita cemaskan walau ingin.

Kita akan lama di sini.
Melibatkan diri di amarah semesta.
Titipkan detak sebuah romansa.
Sedetik kemudian mulai liar tikam menikam rindu.

Sambil kita nantikan puisi yang akan menyapa esok pagi,
Akankah ia berbeda.

By : Mpb
31/12/2018

Afeksi dan Apologia

AFEKSI DAN APOLOGIA

Menyendiri dan sepi.
Kugali ladang diksi.
Sengaja kutuai beberapa yang sukar.
Menjadi satu puisi liar.

Manuver aksara di pagi yang tak berkata-kata.
Bersama residu peristiwa.
Menghitam-putihkan kisah yang ada.

Peti janji seolah ada roda-rodanya.
Menggelinding semakin kencang dan menghantam dinding realita.

Aku pejuang kasih yang cemas.
Pengabdian yang terbatas.
Retorika yang tak baru.
Dan kau yang jemu.

Tak terpikir olehku bagaimana cara mengukir senyum semanis dan segila itu.

Bagiku kau instrumen balada klasik, merayap masuk dari sela-sela pintu kamarku.
Dengan beberapa lagu lama mengetuk mundur ingatanku padamu.

Bila kau berani, bawalah kemari dirimu kini.
Hampiri aku yang merajah hati.
Hendak kuledakkan bom rindu yang sudah kugenggam sedari tadi.
Agar kau tau ini juga bisa bikin mati.

Seluruh dunia tahu kau dahlia siuman dipagi hari.
Merekah, tak sabar untuk bahagia.

Dengan segala afeksi dan apologia.

Sepertinya aku akan terlambat.
Sebab angin pembawa kapal tiraniku ke sana sedang tak terlalu kencang.
Samudra ke singgasanamu sungguh masih panjang.

Mungkin aku akan terlambat.
Meski tetap kudayung dan kukayuh sepanjang jalan.
Namun kala yang kau cari adalah tempat singgah yang dekat, aku bukan tujuan.

Dan bila waktu tak sepakat.
Lajunya tinggalkan dan akhiriku dalam kedinginan.
Abaikan,
Dan menarilah.
Karena kau miliki tarianmu sendiri.
Tarian menyambut datangnya takdir.

Dariku kepadamu si penanti yang sabar.
Dengan segala puitis.
Selamat datang di badai samudera asmara, Bertahanlah.
Atau kau berlarilah.

Seumpama semesta cinta ini mulai temaram.
Tetap kutimang hati baja ini agar tak lalu padam.
Dan kau kan temukan aku, si badut yang tak diberkati dendam.

By : Mpb
11/05/2018

Kaki Untuk Pohon

KAKI UNTUK POHON

Mereka menyapa dengan angin.
Manusia membalas dengan mesin.

Alam terlanjur dipandang sebagai materi.
Lalu setiap kita berlomba memiliki.

Bukankah semestinya takdir mereka tumbuh tinggi?
Dan semestinya manusia ada nurani?

Hidupnya sebagai kayu.
Dibubur menjadi kertas.
Ditebang menjadi pagar.
Dibakar menjadi lahan.

Perkenalkan kami yang tak bersyukur ini adalah ras manusia.
Sejak dahulu virus peradaban pemburu nikmatnya dunia.

Jika suatu saat nanti kita lihat yang berlarian.
Mereka itulah pohon-pohon.
Saking ngerinya pada kita, akar mereka lama-lama tumbuh menjadi kaki.

Mereka berlari pergi,
Sembunyi dari mesin dan perut-perut lapar.
Enyah dari ide-ide destruktif manusia.

Sudah, larilah!
Lari saja seperti itu kawanku.
Pergi dan kutuk kami yang vandalis.
Biar langit semakin tipis.
Biar nafas semakin habis.

By : Mpb
09/03/2018

Dekret Sang Ternanti

DEKRET SANG TERNANTI

Mega hilir mudik di hadapanku.
Kala kusandarkan imaji pada senja itu.
Seakan ku memuai menjadi hamparan yang teramat luas.
Seluas anganku sendiri.

Di wajah utara kota ini.
Bentangan sesak prasasti sejarah diri.
Disana sedang beterbangan bebas cerita yang dulu-dulu.

Aku yang tengah meredam merdu selama ini.
Si gegap dengan daulat yang semakin biasa.

Pada kanvas langit yang tengah jingga-jingganya.
Terhadap parasmu yang kulukis sendiri.
Segan aku melantun seorang diri.

Aku yang sedang tak bakat dalam dosa.
Dengan bual ini ku tak ingin berdusta.

Katakan.
Yang berdesir di darahmu kini ode ataukah elegi.
Kala aku terlunta, engkau berdoa.
Untuk tiap gulita yang tersudahi.

Lukiskan.
Memori padang bunga yang dulu kita arungi berdua.
Di etalase angkasanya terpajang megah cerita-cerita kita.

Dengarkan.
Merdunya genderang perangmu akan diriku.
Paraunya senandung relungku akan dirimu.
Di ruang itu ku bersuara, kau tergesa.
Entaskan segenap ba-bi-bu romansa.

Telah lama sejak kudaftarkan nama pedangku pada medan perangmu.
Usah kau sangka berdiriku disini sedang bermain badut-badutan.

Tuk sekedar mampu menjawabmu haruskah kucari dan kutitih ketujuh hierarki langit?
Karena yang kutahu kita tlah miliki perang kita sendiri disini.

Dan ampuni, membuatmu sibuk menguras segudang kamus bahasa penantian.

Tunggulah, aku pun menunggu.

Tak perlu kau panggilkan sang raksasa waktu yang bernyanyi.
Kau memang sedang menanti namun tak semurung itu.
Kau hanya butuh gelegar.

Sayang.
Kau merpati jelajah angkasaku.

By : Mpb
01/08/2017