3

Aku Dogma

maha-diksi.jpg

AKU DOGMA

Bernyanyi minor di hari petaka.
Rayakan ambisi nihil laksana.
Berlukiskan tawa gusar.
Sekali lagi kujalani seribu debar.

Di persimpangan ketakpercayaan.
Kupilih landasan landai itu.
Kususun kembali beberapa dosa.
Kutinggalkan langkah tak berjejak untuk mereka ikuti.

Tiris serat nadi sang pengejar mimpi.
Aku negasi yang terserak diantara pemikiran besar dan risalah kemenangan.

Sisi banalku terbangun memanjati tulang belakang.
Sisi petarungku terjebak dalam andai-andai.

Bagaimana bila candu mengikis jati diri ?.
Bagaimana bila tak kutemukan cara berarti ?.
Bagaimana bila kebenaran datang dan aku kecewa ?

Bagiku tak mengapa.
Esok kan mendo’a lagi.
Selalu sudi kulawan semua.
Kan kuterjang bersama tuhanku.

By : Mpb
28/04/2019

1

Kekasih Badai

kekasih badai

KEKASIH BADAI

Bertahta disini menghabiskan ruang.
Tergulung obsesi melawan dunia tanpa senjata.
Biar diluar sedang riuh.
Teori kubra, otomatisasi dan perang uang.

Lebih dari seribu penutur berkata.
Jangan berpuisi melawan malam.
Taringnya menererjang ke tulang.
Tajinya menyasar pelipis matamu.

Ahh biasa saja.
Sang malam hanya tak sengaja puitis.
Bila ia sadar tak selalu ada puisi di sini.
Ia sadur irama gemintang dan menjerit kembali.

Apa kabar senyuman yang hilang arah?.
Jangan berkabung seabad gerhana untuk persepsi bahagiamu yang sirna dilamun awan.

Sambutlah hantu baru dalam diriku.
Kutemukan kesombonganku sebesar jupiter.
Lawan yang tak dapat kumenangkan seorang diri.

Dari menatap lampu kamar tak kudapatkan jawaban bijaksana.

Dari balik meja riasmu tak dapat kau tenangkan gundah dunia.

Kemarilah, nyanyikan misterimu dibawah halilintar bersama.
Kita saksikan pertunjukan lautan badai.

Gelombang yang kau pesan telah tiba.
Pecah menghantam dinding-dinding dermaga.
Genapi retaknya suasana hati sang penyair.

Begitu gelapnya dan anggun.
Tak sedikitpun bisa kita cemaskan walau ingin.

Kita akan lama disini.
Melibatkan diri di amarah semesta.
Titipkan detak sebuah romansa.
Sedetik kemudian mulai liar tikam menikam rindu.

Sambil kita nantikan puisi yang akan menyapa esok pagi,
Akankah ia berbeda.

By : Mpb
31/12/2018

1

Afeksi dan Apologia

AFEKSI DAN APOLOGIA

Di waktu sepi.
Tak maksud mengali diksi-diksi.
Tak sengaja kutuai beberapa yang sukar.
Menjadi satu puisi liar.

Manuver aksara di pagi yang tak berkata-kata.
Bersama residu peristiwa.
Menghitam putihkan kisah yang ada.

Peti janji seolah ada roda-rodanya.
Menggelinding semakin kencang dan menghantam dinding realita.

Aku pejuang kasih yang cemas.
Pengabdian yang terbatas.
Retorika yang tak baru.
Dan kau yang jemu.

Tak terpikir olehku bagaimana cara mengukir senyum semanis dan segila itu.

Bagiku kau instrumen balada klasik, merayap masuk dari sela-sela pintu kamarku.
Dengan beberapa lagu lama mengetuk mundur ingatanku padamu.

Bila kau berani, bawalah kemari dirimu kini.
Hampiri aku yang merajah hati.
Hendak kuledakkan bom rindu yang sudah kugenggam sedari tadi.
Agar kau tau ini juga bisa bikin mati.

Seluruh dunia tahu kau dahlia siuman dipagi hari.
Merekah, tak sabar untuk bahagia.

Dengan segala afeksi dan apologia.

Sepertinya aku akan terlambat.
Sebab angin pembawa kapal tiraniku ke sana sedang tak terlalu kencang.
Samudra ke singgasanamu sungguh masih panjang.

Mungkin aku akan terlambat.
Meski tetap kudayung dan kukayuh sepanjang jalan.
Namun kala yang kau cari adalah tempat singgah yang dekat, aku bukan tujuan.

Dan bila waktu tak sepakat.
Lajunya tinggalkan dan akhiriku dalam kedinginan.
Abaikan,
Dan menarilah.
Karena kau miliki tarianmu sendiri.
Tarian menyambut datangnya takdir.

Dariku kepadamu si penanti yang sabar.
Dengan segala puitis.
Selamat datang di badai samudera asmara, bertahanlah.
Atau kau berlarilah.

Seumpama semesta cinta ini mulai temaram.
Tetap kutimang hati baja ini agar tak mudah padam.
Dan kau kan temukan aku, si badut yang tak diberkati dendam.

By : Mpb
11/05/2018

1

Kaki Untuk Pohon

KAKI UNTUK POHON

Siapakah mereka?
Yang riuh oleh angin.
Dan kita?
yang riuh oleh mesin.

Mungkin kini alam mulai dipandang sebagai materi.
Lantas setiap kita dapat berlomba memiliki.

Tapi bukankah semestinya mereka diberkati semesta tumbuh tinggi ?
Dan semestinya kita diberkati nurani ?

Mereka ditakdirkan hidup sebagai kayu.
Dibubur jadi kertas.
Ditebang jadi pagar.
Dibakar jadi lahan.

Siapa sesungguhnya kita yang tak bersyukur ini?
Kita manusia.
Virus peradaban yang tujuannya kemewahan.

Lalu siapakah mereka yang sedang berlari?
Mereka pohon-pohon.
Saking ngerinya pada kita, akar mereka tumbuh menjadi kaki.

Mereka berlari.
Sembunyi.
Bergeming dari mesin dan perut-perut lapar.
Enyah dari ide-ide destruktif manusia.

Sudah, larilah.
Lari saja seperti itu kawanku.
Pergi dan kutuk kami yang vandalis.
Mungkin nanti kami akan terbangun.
Saat langit telah tipis.
Nafas semakin habis.

By : Mpb
09/03/2018

4

Dekret Sang Ternanti

DEKRET SANG TERNANTI

Mega hilir mudik di hadapanku.
Kala kusandarkan imaji pada senja itu.
Seakan ku memuai menjadi hamparan yang teramat luas.
Seluas anganku sendiri.

Di wajah utara kota ini.
Bentangan sesak prasasti sejarah diri.
Disana sedang beterbangan bebas cerita yang dulu-dulu.

Aku yang tengah meredam merdu selama ini.
Si gegap dengan daulat yang semakin biasa.

Pada kanvas langit yang tengah jingga-jingganya.
Terhadap parasmu yang kulukis sendiri.
Segan ku melantun seorang diri.

Aku yang sedang tak bakat dalam dosa.
Dengan bual ini ku tak ingin bercerita.

Katakan.
Yang berdesir di darahmu kini ode ataukah elegi.
Kala ku terlunta, kau berdoa.
Untuk tiap gulita yang tersudahi.

Lukiskan.
Memori padang bunga yang dulu kita arungi bersama.
Di etalase angkasanya pernah terpajang kisah muda kita.

Dengarkan.
Merdunya genderang perangmu akan diriku.
Paraunya senandung relungku akan dirimu.
Di ruang itu ku bersuara, dan kau tergesa.
Entaskan segenap ba-bi-bu romansa.

Telah lama sejak kudaftarkan nama pedangku pada medan perangmu.
Usah kau sangka berdiriku disini sedang bermain badut-badutan.

Tuk sekedar mampu menjawab tanyamu haruskah kucari dan kutitih tujuh hierarki langit?
Karena yang kutahu disini kita tlah miliki perang kita sendiri.

Dan ampuni, membuatmu sibuk menguras segudang kamus bahasa penantian.

Tunggulah, aku pun menunggu.

Tak perlu kau panggilkan sang raksasa waktu yang bernyanyi.
Kau memang sedang menanti namun tak semurung itu.
Kau hanya butuh gelegar.

Sayang.
Kau merpati jelajah angkasaku.

By : Mpb
01/08/2017